Friday, November 24, 2017

Skripsi Analisa Sumber dan Penggunaan Modal Kerja

Halooo sobat bahanskripsi kali ini saya akan membagikan contoh skripsi, yang mana mungkin barang kali di antara kalian ada yang membutuhkan perbandingan perbandingan tentang skripsi apa yang akan kalian ambil. Sekali lagi ini adalah CONTOH SKRIPSI BUKAN UNTUK DICOPAS. hehehe...

Pada artikel ini saya akan membagikan mengenai “Analisa Sumber dan Penggunaan Modal Kerja PKPRI (Pusat Koperasi Pegawai Republik Indonesia) Daerah Sepedah Motor Pada Dinas Indagkoptamben Sepedah Motor”. Untuk lebih detailnya kalian bisa melihat di  bawah dan pada bagian ahir juga telah saya tambahkan link download

BAB I
PENDAHULUAN 
1.1    Latar Belakang Masalah
Setiap koprasi selalu berusaha menerapkan sistem pengolahan data yang baik dan menyajikan laporan keuangan dalam bentuk yang lengkap kepada dinas kopersasi,guna pemntauan siklus keuangan.  Adapun manfaat laporan keuangan bagi koperasi adalah untuk memberikan informasi keuangan yang akan digunakan sebagai bahan pertimbangan oleh dinas koperasi dalam hal pengambilan keputusan. Analisa sumber dan penggunaan modal kerja merupakan alat pertimbangan pengambilan keputusan yang sangat penting bagi manajer atau pihak-pihak yang berkepentingan salah satunya dinas koperasi. Laporan sumber dan penggunaan modal kerja adalah suatu laporan mengenai sumber dana yang diperoleh sebagai modal kerja dan penggunaan dalam sautu periode tertentu.  Laporan ini digunakan untuk menilai efisiensi dan efektivitas koperasi dalam mengolah modal kerja yang ada.  Dengan penggunaan modal kerja yang lebih efisien dan efektif dapat dicapai laba semaksimal mungkin untuk memperluas jaringan usaha atau ekspansi.  Laporan sumber dan penggunaan modal kerja bermanfaat bagi pihak intern dan ekstern koperasi. Untuk mengetahui lebih jauh tentang pentingnya analisa sumber dan penggunaan modal kerja demi kelangsungan hidup koperasi maka penulis tertarik untuk menulis skripsi minor dengan judul :

“Analisa Sumberdan Penggunaan Modal Kerja PKPRI (Pusat Koperasi Pegawai Republik Indonesia) Daerah Skripsi Pada Dinas Indagkoptamben Skripsi”
1.2    Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam proposal skripsi ini adalah “Apakah pengelolaan sumber dan penggunaan modal PKPRI (Pusat Koperasi Pegawai Republik Indonesia) sudah efisien”?.
1.3    Batasan Penelitian
Masalah dalam penelitian ini agar pembahasannya terfokus, maka ruang lingkupnya dibatasi dengan menitik beratkan pada modal kerja yang mengacu pada aktiva lancar dan hutang lancar khususnya modal kerja bersih atau net working capital, dengan periode selama lima tahun mulai tahun 2009 sampai dengan 2013.
1.4    Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan Penelitian :
1.    Untuk mengetahui bagaimana PKPRI mengelola sumber dan penggunaan modal kerja.
2.    Untuk mengetahui apakah manjemen PKPRI telah cukup efisien dalam menggunakan modal kerja.
Manfaat Penelitian :
1.    Bagi koperasi, dapat dijadikan sebagai bahan masukan dan evaluasi dalam pengambilan keputusan terutama dalam mengelola modal kerja dimasa yang akan datang.
2.    Bagi penulis, untuk menambah pengetahuan tentang sumber dan penggunaan modal kerja dan melihat penerapannya dalam perusahaan.
3.    pihak lain, Sebagai bahan informasi atau perbandingan mengenai analisa sumber dan penggunaan modal kerja bagi peneliti lain yang akan melaksanakan penelitian selanjutnya.
 

1.5    Kegunaan Penelitian
Dalam penelitian ini,agar dapat digunakan untuk mengevaluasi dan menganalisa sumber dan penggunaan modal kerja pada PKPRI Kabupaten Skripsi,serta untuk bahan perbandingan bagi peneliti selanjutnya.
Berdasarkan Undang-Undang Perkoperasian Nomor 17 tahun 2012 pasal 1 Koperasi adalah badan hukum yang didirikan oleh orang perseorangan atau badan hukum Koperasi dengan pemisahan kekayaan para anggotanya sebagai modal untuk menjalankan usaha, yang memenuhi aspirasi dan kebutuhan bersama di bidang ekonomi, sosial, dan budaya sesuai dengan nilai dan prinsip koperasi. Oleh kerenanya proposal ini juga mengacu pada data – data dari penelitian terdahulu, diantaranya tinjauan dari skripsi “Heriyanto, Skripsi:UM, YayukMa’muroh, Skripsi:UIN, Catur Susanto, Skripsi:UB, Rizkityarin Wibisono, Skripsi :UIN”.Dengan demikian rumusan masalah yang diangkat diharapkan sesuai dengan hasil yang diteliti.


Penjabaran dari peneliti terdahulu dilakukan oleh Heriyanto 2004 menyimpulkan bahwa perusahaan efisien didalam mengelola total aktiva dan modal yang diinvestasikan. Dari analisis sumber dan penggunaan modal kerja dari tahun ke tahun terjadi peningkatan. Ditinjau dari tingkat likuiditas menunjukkan bahwa current ratio dan quick ratio berada di atas standar ideal atau bisa dikatakan over likuid. Hal ini disebabkan oleh menumpuknya dana perusahaan pada piutang. Ditinjau dari tingkat aktifitas menunjukkan bahwa pengelolaan persediaan sudah berjalan secara efisien. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan penjualan dan menurunnya jumlah persediaan pada periode tersebut. Masalah terdapat pada tingkat perputaran piutang yang sangat rendah. Hal ini mengindikasikan adanya pengelolaan dana yang kurang tepat dalam piutang sehingga periode pengumpulannya juga semakin lama. Ditinjau dari profitabilitas menunjukan bahwa tahu 2003 megalami peningkatan untuk semua jenis rasio dari profitabilitas hal ini menunjukkan bahwa telah mampu mempertahankan tingkat laba. Perusahaan juga efisien didalam mengelola total aktiva dan modal yang diinvestasikan. Dalam penelitian tersebut salah satu alat yang digunakan untuk mengukur efisiensi pengelolaan modal kerja adalah analisis rasio keuangan yang didukung oleh analisis sumber dan penggunaan modal kerja.

Yayuk Ma’muroh (2005), dalam skripsinya menyatakan bahwa kondisi keuangan PT. Polowijo Gosari periode 2002-2004 aktiva lancarnya mengalami kenaikan selama tiga tahun terakhir berturut-turut. Variabel penelitian ini menggunakan analisis modal kerja dan pengukuran modal kerja. Dari hasil analisis yaitu sumber dan penggunaan modal kerja bahwa dari tahun ke tahun terjadi peningkatan modal kerja. Hal ini disebabkan karena sumber-sumber modal kerja lebih besar dari penggunaannya. Dan pemenuhan kebutuhan modal kerja ditahun 2003 keterikatan dana sebelumnya adalah sebesar 255,63 hari, atau perputaran modal kerja secara keseluruhan adalah 306/255,63 hari = 1,408 kali. Dan ditahun 2004 keterikatan dan seluruhnya adalah sebesar 261,088 hari, atau peputaran modal kerja secara keseluruhan adalah 360/261,088 hari = 1,379 kali.

Catur Susanto (2006), menyimpulkan bahwa masalah yang timbul adalah rendahnya tingkat profitabilitas koperasi tahun 2005 bila dibandingkan dengan tingkat suku bunga pinjaman bank pertahun pada awal tahun 2005, sehingga koperasi perlu meningkatkan efisiensi manajemen modal kerjanya agar profitabilitas koperasi dapat ditingkatkan. Berdasarkan analisis laporan perubahan modal kerja tahun 2003-2005 dapat diketahui bahwa selama 3 tahun terakhir modal kerja perusahaan lebih banyak tertanam dalam piutang, sehingga dikatakan bahwa modal kerja tersebut menjadi tidak produktif. Berdasarkan proyeksi laporan keuangan tahun 2006 dapat diketahui bahwa koperasi dapat meningkatkan rasio likuiditas, rasio aktivitas, dan rasio profitabilitas. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya efisiensi manajemen modal kerja koperasi. Meningkatnya modal kerja koperasi disebabkan oleh meningkatnya kas pada koperasi sebagai hasil dari peningkatan penjualan dan penghematan pada biaya-biaya operasional koperasi.

Rizkityarin Wibisono 2007, Posisi modal kerja pada KPRI Universitas Brawijaya dari tahun 2004 sampai dengan 2006 menunjukkan keadaan yang baik, hal ini terlihat dari perkembangannya yang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yaitu tahun 2004-2005 sebesar 72,80% tahun 2005-2006 sebesar 296,47%. Begitu juga pada KPRI RSSA Skripsi posisi modal kerjanya menunjukkan keadaan yang baik yaitu pada tahun 2004-2005  mengalami kenaikan sebesar Rp. 371.354.299,33,- tahun 2005-2006 mengalami kenaikan sebesar 31,90% perubahan tersebut dikarenakan jumlah aktiva lancar lebih besar daripada hutang lancar. Dari kedua KPRI di atas, posisi modal kerjanya yang paling baik adalah KPRI Universitas Brawijaya karena jumlah kenaikan modal kerjanya yang terbesar dibandingkan KPRI RSSA Skripsi. Dari kedua KPRI berdasarkan hasil analisis rasio rentabilitas, yang bisa dikatakan paling efisien adalah KPRI Universitas Brawijaya dikarenakan koperasi mampu meningkatkan rentabilitasnya dengan rata-rata rentabilitas usaha yaitu 4,28% dan profit margin yaitu 1,72%
Sedangkan dalam penelitian ini, peneliti menggunakan analisis laporan sumber dan penggunaan modal kerja, serta menyusun neraca perbandingan dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2013.
2.4 Perbedaan Koperasi dengan Badan Usaha Lain
Koperasi adalah organisasi yang dibentuk untuk menjalan kan usaha, hanya metode organisasionalnya berbeda dengan badan usaha non koperasi. Perbedaan yang disepakati menurut Kusnadi (2005: 57) adalah pada koperasi dikembangkan prinsip identitas dimana anggota sebagai pemilik dan sekaligus sebagai pelanggan, sedangkan pada badan non koperasi anggota dapat saja sebagai pemilik, tetapi ia bukan sebagai pelanggan. Perbedaan lain yang sering digunakan adalah prinsip one man one vote, dan patronage refunds. One man one vote, diartikan sebagai hak suara yang diberikan tidak memandang besarnya modal yang diinvestasikan pada koperasi, sedangkan patronage refunds diartikan sebagai pembagian sisa hasil usaha didasarkan atas jasa-jasa yang diberikan anggota kepada koperasi. Perbedaan ini menyebabkan setiap keputusan yang diambil dalam rangka meningkatkan efisiensi pada koperasi akan berbeda dengan perusahaan non koperasi, walaupun faktor-faktor penentu efisiensi sama, misalnya biaya, harga, output, kekayaan, dan lain-lain.
2.11.2    Jenis-jenis Modal Kerja 
Menurut Riyanto (1995: 61) jenis-jenis modal kerja yang digolongkan oleh W.B. Taylor dibagi menjadi dua yaitu:

Modal Kerja Permanen (Permanent Working Capital) Yaitu modal kerja yang harus tetap ada pada perusahaan untuk dapat menjalankan fungsinya, atau dengan kata lain modal kerja yang secara terus-menerus diperlukan untuk kelancaran usaha. Modal kerja permanen ini dapat dibedakan dalam:
Modal Kerja Primer (Primary Working Capital), yaitu jumlah modal kerja minimum yang harus ada pada perusahaan untuk menjamin kontinuitas usahanya.
Modal Kerja Normal (Normal Working Capital), yaitu jumlah modal kerja yang diperlukan untuk menyelenggarakan luas produksi yang normal. Pengertian “normal” disini adalah dalam artian yang dinamis.

Modal Kerja Variabel (Variabel Working Capital) Yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan keadaan, dan modal kerja ini dibedakan antara : 
Modal Kerja Musiman (Seasonal Working Capital), yaitu jumlah modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi musim. 
Modal Kerja Siklis (Cyclical Working Capital), yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi konjungtur. Modal Kerja Darurat (Emergency Working Capital), yaitu modal kerja yang besarnya berubah-ubah karena adanya keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya (misalnya adanya pemogokan buruh, banjir, perubahan keadaan ekonomi yang mendadak). Oleh karena itu agar operasional perusahaan dapat berjalan dengan lancar, maka keberadaan modal kerja permanen sangat penting dan harus selalu ada, sedangkan untuk mangantisipasi berbagai macam perubahan yang mungkin terjadi yang dapat mempengaruhi aktivitas perubahan, maka diperlukan keberadaan modal kerja variabel.

2.12     Unsur-unsur Modal Kerja
Sebagaimana telah dikemukakan pada uraian sebelumnya bahwa pengertian modal kerja yang digunakan dalam penelitian ini adalah modal kerja menurut konsep kuantitatif, yaitu keseluruhan dari jumlah aktiva lancar. Pendapat lain mengemukakan bahwa pos-pos utama dalam aktiva lancar yang akan dibicarakan disini adalah kas, surat-surat berharga, piutang dagang dan persediaan (Syamsuddin, 2004: 201).Berdasarkan berbagai pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa yang termasuk komponen atau unsur-unsur modal kerja adalah kas, piutang dan persediaan.

2.12.1    Kas
Kas menurut Baridwan (2000: 85) merupakan suatu alat pertukaran dan juga digunakan sebagai ukuran dalam akuntansi. Dalam neraca, kas merupakan aktiva yang paling lancar, dalam arti yang paling sering berubah. Hampir pada setiap transaksi dengan pihak luar selalu mempengaruhi kas.Definisi lain oleh Soemarso (1994: 349) yaitu kas adalah segala sesuatu, baik yang berbentuk uang atau bukan, yang dapat tersedia dengan segera dan diterima sebagai pelunasan kewajiban pada nilai nominalnya. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa kas tidak hanya uang tunai yang ada di perusahaan tetapi juga uang yang tersimpan di bank serta semua setoran yang diterima bank yang dapat dicairkan sewaktu-waktu. Aliran ini menyebabkan timbulnya saldo atau defisit kas. Perusahaan selalu menetapkan minimum kas dalam menjalankan usahanya, maka perusahaan harus memiliki dana cukup yang tertanam pada kas. Saldo minimum kas yang ada dalam setiap perusahaan berbeda-beda. Tetapi pada dasarnya saldo tersebut sangat tergantung pada tiga motif perusahaan menyimpan kas, yaitu motif transaksi, motif berjaga-jaga, dan motif berspekulasi (Husnan dan Pujiastuti, 1998: 111). 

2.12.2    Piutang 
Pos piutang dalam perusahaan biasanya merupakan komponen yang cukup besar dari aktiva lancar. Oleh karena itu perlu dikontrol agar tidak menimbulkan inefisiensi. Piutang menurut Yusuf (1999: 52) merupakan klaim perusahaan terhadap pihak ketiga (anggota) yang dapat dijelaskan sebagai berikut : “Piutang timbul apabila perusahaan (atau seseorang) menjual barang atau jasa kepada perusahaan lain (atau orang lain) secara kredit. Piutang merupakan hak untuk menagih sejumlah uang dari penjual kepada pembeli yang timbul karena adanya transaksi secara kredit”.

Menurut Gitosudarmo (2002: 81) mendefinisikan piutang adalah merupakan aktiva atau kekayaan perusahaan yang timbul sebagai akibat dari dilaksanakannya kebijakan penjualan kredit. Kebijakan penjualan kredit ini merupakan kebijakan yang biasa dilakukan dalam dunia bisnis untuk merangsang minat para pelanggan, jadi kebijakan ini sengaja dilakukan untuk memeperluas pasar dan memperbesar hasil penjualan. Jadi piutang adalah tagihan kepada pihak-pihak luar perusahaan yang timbul karena terjadinya penjualan atau penyerahan jasa-jasa secara kredit.

2.12.3    Persediaan
Syamsuddin (2004: 280) mendefinisikan persedian yaitu merupakan investasi yang paling besar dalam aktiva lancer untuk sebagian besar perusahaan industry. Persediaan diperlukan untuk dapat melakukan proses produksi, penjualan secara lancar, persediaan bahan mentah dan barang dalam proses diperlukan untuk menjamin kelancaran proses produksi, sedangkan barang jadi harus selalu tersedia sebagai buffer stock agar memungkinkan perusahaan memenuhi permintaan yang timbul. Persediaan merupakan barang-barang yang dimiliki perusahaan dengan maksud untuk dijual kembali atau diproses lebih lanjut menjadi produk baru yang memiliki nilai ekonomis lebih tinggi. Gitosudarmo (2002 : 93) menjelaskan persediaan merupakan bagian utama dari modal kerja yang merupakan aktiva yang pada setiap saat mengalami perubahan.
Dalam persediaan yang perlu diperhatikan adalah tingkat perputarannya. Tingkat perputaran persediaan menunjukkan berapa kali persediaan itu diganti dalam artian dibeli atau dijual kembali. Semakin tinggi tingkat perputaran persediaan maka modal kerja yang tertanam dalam persediaan makin rendah. Untuk dapat mencapai tingkat perputaran yang tinggi perlu diadakan perencanaan dan pengawasan persediaan secara teratur dan efisien. Karena semakin tinggi tingkat perputaran persediaan akan memperkecil kemungkinan kerugian akibat perubahan selera konsumen dan fluktuasi harga, selain itu akan menghemat biaya penyimpanan dan pemeliharaan persediaan tersebut.
2.13    Sumber Modal Kerja
Riyanto (1995: 209), bahwa pada dasarnya ada dua sumber modal kerja, yaitu: Sumber intern, adalah sumber dana yang dibentuk atau dihasilkan sendiri di dalam perusahaan yaitu modal atau dana yang dibentuk atau dihasilkan sendiri di dalam perusahaan. Sumber ekstern, adalah sumber yang berasal dari luar perusahaan yaitu dana yang berasal dari para kreditur dan pemilik, peserta atau pengambil bagian di dalam perusahaan.

Pendapat lain yaitu Munawir (1990: 119) pada dasarnya modal kerja itu terdiri dari dua bagian pokok, yaitu:

a)    Bagian yang tetap atau bagian yang permanen yaitu jumlah minimum yang harus tersedia agar perusahaan dapat berjalan dengan lancar tanpa kesulitan keuangan.
b)    Jumlah modal kerja yang variabel jumlahnya tergantung pada aktivitas musiman dan kebutuhan-kebutuhan di luar aktivitas yang biasa.

Kebutuhan modal kerja yang permanen seharusnya atau sebaliknya dibiayai oleh pemilik perusahaan atau para pemegang saham. Semakin besar jumlah modal kerja yang dibiayai atau yang berasal dari investasi pemilik perusahaan akan semakin baik bagi perusahaan tersebut karena akan semakin besar kemampuan perusahaan untuk memperoleh kredit, dan semakin besar jaminan bagi kreditor jangka pendek. Di samping dari investasi para pemilik perusahaan, kebutuhan modal kerja yang permanen dapat pula dibiayai dari penjualan obligasi atas jenis hutang jangka pendek lainnya, tetapi dalam hal ini perusahaan harus mempertimbangkan jatuh tempo dari hutang jangka panjang ini di samping juga harus mempertimbangkan beban bunga yang harus dibayar oleh perusahaan (Munawir, 1990: 119). Pada umumnya sumber modal kerja suatu perusahaan menurut Munawir (1990: 120) dapat berasal dari: Hasil operasi perusahaan Adalah jumlah net income yang nampak dalam laporan perhitungan rugi laba ditambah depresiasi dan amortisasi, jumlah ini menunjukkan jumlah modal kerja yang berasal dari hasil operasi perusahaan. Keuntungan dari penjualan surat-surat berharga (investasi jangka pendek) Keuntungan yang diperoleh dari penjualan surat berharga ini merupakan suatu sumber untuk bertambahnya modal kerja, sebaliknya apabila dalam penjualan tersebut terjadi kerugian maka akan menyebabkan berkurangnya modal kerja.


Penjualan aktiva tidak lancar
Sumber lain yang dapat menambah modal keja adalah hasil penjualan aktiva tetap, investasi jangka panjang dan aktiva tidak lancar lainnya yang tidak diperlukan lagi oleh perusahaan.
Penjualan saham atau obligasi
Untuk menambah dana atau modal kerja yang dibutuhkan perusahaan dapat pula mengadakan emisi saham baru atau meminta kepada para pemilik perusahaan untuk menambah modalnya, di samping itu perusahaan dapat juga mengeluarkan obligasi atau bentuk hutang jangka panjang lainnya guna memenuhi kebutuhan modal kerjanya.
Dari uraian tentang sumber-sumber modal kerja tersebut dapat disimpulkan bahwa modal kerja akan bertambah apabila (Munawir, 1990: 123):
a)     Adanya kenaikan sektor modal baik yang berasal dari laba maupun adanya pengeluaran modal saham atau tambahan investasi dari pemilik perusahaan.
b)    Ada pengurangan atau penurunan aktiva tetap yang diimbangi dengan bertambahnya aktiva lancar karena adanya penjualan aktiva tetap maupun melalui proses depresiasi.
c)    Ada penambahan hutang jangka panjang baik dalam bentuk obligasi, hipotek atau hutang jangka panjang lainnya yang dimbangi dengan bertambahnya aktiva lancar.

2.14    Penggunaan Modal Kerja
Pemakaian atau penggunaan modal kerja akan menyebabkan perubahan bentuk maupun penurunan jumlah aktiva lancar yang dimiliki oleh perusahaan, tetapi penggunaan aktiva lancar tidak selalu diikuti dengan berubahnya atau turunnya jumlah modal kerja yang dimiliki oleh perusahaan (Ahmad, 1997: 103).

Penggunaan-penggunaan aktiva lancar yang mengakibatkan turunnya modal kerja adalah sebagai berikut (Munawir, 1990: 125):
a.    Pembayaran biaya atau ongkos-ongkos operasi perusahaan, meliputi pembayaran upah, gaji, pembelian bahan atau barang dagangan, supplies kantor dan pembayaran biaya-biaya lainnya.
b.    Kerugian-kerugian yang diderita oleh perusahaan karena adanya penjualan surat berharga atau effek, maupun kerugian yang insidentil lainnya.
c.    Adanya pembentukan dana atau pemisahan aktiva lancar untuk tujuan-tujuan tertentu dalam jangka panjang, misalnya Dana Pelunasan Obligasi, Dana Pensiun Pegawai, Dana Expansi.
d.    Adanya penambahan atau pembelian aktiva tetap, investasi jangka panjang atau aktiva tidak lancar lainya yang mengakibatkan bekurangnya aktiva lancar atau timbulnya hutang lancar yang berakibat berkurangnya modal kerja.
e.    Pembayaran hutang-hutang jangka panjang yang meliputi hutang hipotik, hutang obligasi maupun bentuk hutang jangka panjang lainnya, serta penarikan atau pembelian kembali (untuk sementara maupun untuk seterusnya) saham perusahaan yang beredar atau adanya penurunan hutang jangka panjang diimbangi berkurangnya aktiva lancar.
f.    Pengambilan uang atau barang dagangan oleh pemilik perusahaan untuk kepentingan pribadinya (prive) atau adanya pengambilan bagian keuntungan oleh pemilik dalam perusahaan perseorangan dan persekutuan.

Menurut Riyanto (1995: 353), bahwa penggunaan aktiva lancar uang mengakibatkan naik atau turunnya jumlah modal kerja adalah sebagai berikut :
a)    Bertambahnya aktiva tetap.
b)    Berkurangnya utang jangka panjang.
c)    Berkurangnya modal.
d)    Pembayaran cash dividen.
e)    Adanya kerugian dalam operasinya perusahaan.

Kesimpulan yang dapat diambil yaitu penggunaan sumber modal kerja untuk melakukan pembayaran biaya-biaya, pembelian- pembelian aktiva tak lancar dan prive.
File format word bisa download  di sini
Untuk bab selanjutnya bisa dilihat pada artikel selanjutnya. Salam bahanskripsi


2 komentar:

  1. Blognya bagus dan sangat membantu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trimakasih atas perhatian anda. Terus berlunj7ng disini untuk update selajutnya

      Delete